Tafsir Kebahagiaan ala Kang Jalal

 

Tafsir Kebahagiaan ala Kang Jalal

“Dalam Al-Quran, di antara kata yang paling tepat menggambarkan kebahagiaan adalah aflaha,” demikian tulis pakar komunikasi yang sekaligus pendakwah andal dari Bandung, Jalaluddin Rakhmat, dalam bukunya Tafsir Kebahagiaan: Pesan Al-Quran Menyikapi Kesulitan Hidup. Terus terang, ketika menemukan buku ini tadi malam, saya sungguh bahagia. Buku ini bukan buku baru. Ia terbit pertama kali pada April 2010 dan dicetak ulang pada Juni 2010. Saya terlambat setahun untuk tahu bahwa ada buku yang, menurut saya, sangat bagus.

Sebelum buku Tafsir Kebahagiaan ini terbit, Kang Jalal—demikian panggilan akrabnya—pernah menerbitkan buku Meraih Kebahagiaan yang, mungkin, terbit sekitar 6-7 tahuan sebelum Tafsir Kebahagiaan. Jika buku Meraih Kebahagiaan didasarkan pada, katakanlah, sains, maka Tafsir Kebahagiaan didasarkan pada Al-Quran. Dalam Meraih Kebahagiaan, saya dikenalkan dengan konsep menarik “happiness is a choice”. Sementara dalam Tafsir Kebahagiaan saya diberi semacam cara meraih kebahagiaan ala Kang Jalal sesuai petunjuk Al-Quran.

Aflaha adalah kata turunan dari akar kata falah. Kamus-kamus bahasa Arab klasik memerinci makna falah sebagai berikut: kemakmuran, keberhasiln, atau pencapaian apa yang kita inginkan atau kita cari; sesuatu yang dengannya kita berada dalam keadaan bahagia atau baik; terus-menerus dalam keadaan baik; menikmati ketenteraman, kenyamanan, atau kehidupan yang penuh berkah; keabadian, kelestarian, terus-menerus, berkelanjutan,” lanjut Kang Jalal. Ketika membaca makna kata falah ini, bulu kuduk saya merinding. Indah sekali karena begitu—meminjam istilah anak ABG—“nendang” di hati.

Kang Jalal pun, dengan bagus, mengingatkan para pembaca bukunya bahwa setiap hari, sebanyak lima kali, kaum Muslim di seluruh dunia senantiasa mendengar azan—panggilan untuk menjalankan shalat wajib—yang, antara lain, di dalam panggilan atau seruan itu ada kata-kata “hayya ‘alal-falah” atau “marilah meraih kebahagiaan.” Bagi Kang Jalal sendiri, perincian makna kata falah tersebut merupakan komponen-komponen kebahagiaan. Kebahagiaan bukan hanya ketenteraman dan kenyamanan. “Kenyamanan atau kesenangan yang dialami oleh seseorang hanya satu saat tidak otomatis melahirkan kebahagiaan,” tegas Kang Jalal.

Ketika kita telah berhasil mencapai keinginan kita, itu tidak berarti kita telah bahagia. Kesenangan dalam mencapai keinginan biasanya bersifat sementara. Satu syarat penting harus ditambahkan, yaitu kelestarian atau menetapnya keadaan perasaan itu di dalam diri kita. “Kata turunan selanjutnya dari aflaha adalah yuflihu, yuflinahi, tuflihu, tuflihani, yuflihna (semua kata ini tidak ada dalam Al-Quran), dan tuflihuna (disebut sebelas kali dalam Al-Quran dan selalu didahului dengan kata la’allakum. Maknala’allakum tuflihuna adalah ‘supaya kalian berbahagia’.” Sekali lagi saya bergetar memahami petunjuk Al-Quran ini tentang kebahagiaan ini.

Akhirnya, hanya dalam sebuah bab pendek—karena buku Tafsir Kebahagiaan ini memang hanya terdiri atas 15 bab yang berisi tulisan-tulisan tak terlalu panjang—saya pun merasa diberi petunjuk oleh Al-Quran tentang bagaimana saya bisa meraih kebahagiaan. Kebetulan bab pertama yang saya baca berjudul “Supaya Kalian Berbahagia” (halaman 17-28). “Nah,” tulis Kang Jalal, “dengan mengetahui ayat-ayat yang berujung dengan kalimat la’allakum tuflihuna, kita diberi pelajaran bahwa semua perintah Tuhan dimaksudkan agar kita hidup bahagia.”

Salah satu ayat yang dicontohkan oleh Kang Jalal—di bab pertama yang saya baca itu—berada di ujung Surah Al-A’raf ayat ke-69, “Kenanglah anugerah-anugerah Allah agar kalian berbahagia.”[Oleh: Hernowo]